Soal Kepuasan Pelanggan

Judulnya sepertinya mirip dengan tulisan yang sudah pernah saya tulis di sini. Ya ini memang topik yang erat kaitannya dengan yang namanya kepuasan pelanggan.

Ini cerita yang tertinggal dari Makassar minggu lalu. Ceritanya kami berempat (Pak Nana, Ofie, Paulus) cari makan di dekat pantai Losari. Jalan-jalan dulu akhirnya pilih RM Sulawesi Baru.

Pelayanannya super lambat, sejak kami datang sampai pelayan datang membawakan menu itu prosesnya cukup membuat kami berempat ngedumel. Waktu kami datang, hampir semua meja penuh dan kalaupun ada yang kosong mejanya masih berantakan. Meja yang kami pilih memang terletak agak jauh dari pintu, mojok lah pokoknya. Ketika pelayan datang membawa menu, kami harus menunggu dia membereskan meja terlebih dulu baru bisa memesan.

Malam itu yang “nasib”-nya kurang bagus adalah Pak Nana 😀 . Pertama dia pesan Green Sand, kami pesan pada pelayannya untuk menyiapkan minum sesegera mungkin. Beberapa menit kemudian, pelayannya datang dengan membawa hanya 3 minuman. Satu Coca Cola untuk saya, satu teh manis untuk Paulus, dan satu lagi lemon tea untuk Ofie. Pak Nana yang belum datang minumnya. Cuek saja si pelayan. Waktu dikonfirmasi si pelayan dengan tanpa senyum sedikit pun cuma bilang “Green Sandnya habis Pak”. Gila kan? Kalau Pak Nana diam saja, si pelayan sama sekali tidak memberitahu kalau minuman yang dipesan sudah habis, lah wong setelah mengantarkan minuman kami dia mau cepat-cepat pergi. Mulai naik tensi kami (tensi Pak Nana sih sepertinya 😀 ).

Tunggu lagi beberapa menit, makanan datang. Satu ikan baronang bakar untuk saya, cumi goreng untuk Ofie, dan sup ayam buat Paulus. Lagi-lagi tidak ada makanan pesanan Pak Nana (pesan ayam goreng kalau tidak salah). Pak Nana cuma dapat nasi putih ;)) Dan lagi-lagi si pelayan sama sekali tidak memberitahu kalau ayamnya habis. Ditanya mana ayamnya dia baru jawab : “ayamnya habis Pak”….gubrak :)) Wah-wah saya langsung berpikir, “bisa saya putus hongshui-nya nih rumah makan, alias bisa saya muat di blog nih cerita jelek rumah makan ini”. Ngomel deh Pak Nana sama si pelayan. Pelayannya cuma diam, boro-boro minta maaf.

Gila nih rumah makan, masa makanannya habis diam-diam saja. Idealnya kalau mereka cek makanan yang dipesan sudah habis, mereka harus sesegera mungkin memberi tahu tamunya. Paling tidak si tamu bisa memilih menu lain yang masih tersedia. Dan tentunya beritahu tamu sesaat setelah dia cek ke dapur donk, masa setelah semua makanan keluar mereka baru mengabarkan ada yang kurang. Masa si tamu harus menunggu sekian menit lagi untuk memesan makanan lain, sementara rekan-rekannya sudah bisa makan. Memang kami datang sudah cukup malam, sekitar setengah 9 malam. Wajar kalau banyak makanan sudah habis. Tapi kok mereka diam-diam saja. Kecuekan mereka yang bikin kami kesal.

Lalu yang kedua, apa susahnya sih minta maaf? Saat kami membayar ke kasir, Pak Nana kembali complain dengan si Mbak penjaga kasir. Sama seperti pelayan yang tadi, si Mbak cuma bisa diam. Untuk Pak Nana masih berbaik hati tidak mencari-cari manajer/yang punya rumah makannya. Ya sudah akhirnya terpaksa saya tulis tulisan ini, biar orang yang baca tulisan ini bisa menilai bagaimana pelayanan di sana. Entah kenapa mereka memperlakukan kami berempat seperti itu. Apa mungkin penampilan kami tidak meyakinkan? Tampang-tampang gak mampu bayar? Kapok lah kami berempat balik lagi ke rumah makan itu. Pelayanan yang buruk, makanan di sana pun tidak membuat kami ingin balik lagi ke sana.

3 thoughts on “Soal Kepuasan Pelanggan

  1. wakaakaka kasian banget tu pak Nana ya bos, kalo gua jadi pak Nana gua lemparin tu nampan ke muka pelayannya.

    tapi mungkin juga secara tampang nggak mampu kalee yeee
    ampe kagak disediain makanan… makanya bos besok2 pake pakean yang perlente ala donjuan gitu lho bos

    Pesan dari Andre (SIP3-Icon)

  2. mengenai pelayanan di rumah makan sulawesi baru, kami mohon maaf. kemungkinan adalah pada saat jam pergantian shift atau pada hari jumat, dimana seluruh karyawan pria, sedang sholat. jika pada jam-jam tersebut, maka mohon dimaklumi”shortage of a services” kami akui. jadi kami mengharapkan kritik yang membangun akan merupakan masukan yang baik bagi kami, untuk kami memperbaiki pelayanan di kemudian hari

Leave a Reply