Warung Sate Pak Naryo

Siang ini saya menemukan warung sate yang enak di Bintaro. Enak tapi sayang jauh 🙁 Siang tadi saya pergi instalasi server di Gedung XL Bintaro. Pas jam makan siang saya pergi cari makan dengan rekan kantor. Putar-putar Bintaro saya lihat ada asap & tulisan Warung Sate Kambing “Tongseng” Pak Naryo. Namanya aneh, kata tongsengnya dibuat dalam huruf besar semua & ditulis dalam tanda kutip. Maksudnya nama warungnya itu “Tongseng” atau memag jualan tongseng. Langsung saya coba, bukan penasaran dengan namanya sih tapi memang ingin saja makan sate kambing. Masuk ke warung, di meja sudah ada daftar menu lengkap dengan harganya. Kaget juga lihat harganya…kok murah. Di Jakarta sate kambing yang enak harganya paling tidak Rp25.000,- seporsi. Seporsi sate kambing (10 tusuk) harganya cuma Rp15.000,- Sama halnya dengan sate hati kambingnya.

Waktu saya tanya ternyata sate kambing harga Rp15.000,- itu bukan daging semua, tapi campur lemak. Saya minta daging polos semua, pelayannya bilang harganya lain Pak. Saya pikir beda jauh, ternyata sate kambing tanpa lemaknya seporsi cuma Rp20.000,-. Saya langsung pesan 20 tusuk; 10 sate kambing daging polos dan 10 sate hati….maksudnya biar rekan saya juga bisa mencicipi. Rekan saya cuma pesan tongseng kambing. Proses bakarnya cukup lama, katanya sih kalau lama bakar satenya rasanya biasanya enak rasanya 😀

Begitu datang satenya langsung saya coba satu. Hmm ternyata empuk dagingnya. Baru mulai makan beberapa sendok, saya pikir sate ini layak direkomendasikan. Berhenti makan sejenak, ambil kamera (masih kebiasaan lama ke mana-mana bawa kamera DSLR…eh salah…kamera saku maksudnya) foto dulu sebelum keburu habis satenya. Yah maklum saja kalau hasil fotonya jelek, yang penting terdokumentasi dan bisa dimuat di blog 😀

Warung sate ini tidak cukup luas. Lebarnya hanya seukuran 3m, cukup untuk 2 meja ditaruh berjajar. Memanjang ke dalam hanya ada 4 deret meja. Tempat bakar satenya di luar dekat trotoar, sudah umum memang warung sate meletakkan tempat bakar satenya di depan. Tentu itu juga jadi iklan tidak langsung kan. Hmm kecuali mungkin Sate Senayan yang cukup elegan tidak mempertontonkan asap dan adegan bakar sate.

Ok balik lagi tentang warung sate di Bintaro tadi. Warung sate ini ada di Jalan Bintaro Utama Raya Sektor 3A No 41. Ada nomor teleponnya juga loh, 021-71521770. Siapa tahu anda sedang mencari kambing guling untuk pesta atau perlu kambing untuk aqikhah bayi Anda :-p Hehehe soalnya di bagian bawah bonnya ada tulisan itu : menerima pesanan bla bla bla. Ternyata warung sate ini cuma cabang saja. Pusatnya sendiri ada di Jalan Raya Serpong Km 8. Mungkin di sana lebih besar (lah memangnya pusat selalu lebih besar ya…ga juga sih 😀 ). Pak Naryo ini rupanya sudah punya 4 cabang, sayang semuanya seputaran BSD dan Bintaro.

Sayang hari ini instalasi terakhir di XL Bintaro. Kemungkinan balik lagi ke Bintaro jadi kecil, susah deh balik lagi makan di warung sate enak ini. Kecuali diniatkan makan sate ini naik taksi ke sana paling tidak Rp80.000,-; bolak balik berarti sudah Rp160.000,- …halah masa lebih mahal taksinya daripada satenya 😀 Yah mudah-mudahan ada proyek lagi di XL Bintaro, jadi bisa sering-sering makan di sana. Rekomen sekali tempatnya, terutama untuk Anda pecinta sate kambing.

Wafer Keju

Awalnya saya disuruh oleh rekan saya untuk mencoba wafer ini. Saya diberi satu bungkus dan ternyata saya suka rasanya. Wafer baru rasa keju ini bermerek Nabati. Tadi siang saya beli lagi wafer ini, warna kemasannya menarik membuat saya tadi tertarik memotretnya (blogger kurang kerjaan :)) ) Selama ini sepertinya jarang wafer rasa keju. Belakangan saja Tango membuat wafer rasa keju. Bentuk dan kemasan wafer Nabati ini cukup unik. Kalau biasanya wafer dibuat dalam ukuran kecil, Nabati ini dibuat dalam bentuk memanjang. Dalam satu kemasan, Anda bisa mendapat 2 batang wafer keju. Rasanya mirip Chiki Balls rasa keju 🙂 … asin-asin gurih. Sayangnya produsen wafer Nabati ini tidak menyediakan kemasan lain yang lebih besar, misalnya dalam kemasan kaleng seperti yang umum dilakukan produsen wafer lainnya. Mungkin ini juga jadi strategi penjualan mereka. Dengan harga sekitar Rp1050,- per kemasan pasti lebih besar untungnya daripada membuatnya dalam kemasan yang lebih besar. Entah apa nanti produsen wafer Nabati ini akan menjualnya dalam kemasan yang lebih besar.

Tentang Bakwan

Entah sebenarnya apa nama untuk makanan seperti ini, ada yang bilang bakwan tapi ada juga yang menyebutnya seperti bakso malang. Saya sih terbiasa menyebutnya sebagai bakwan. Dulu sempat heran juga kenapa ada orang yang menyebut perkedel jagung dengan nama bakwan.

Foto diambil tadi sore saat makan bakwan di belakang gedung kantor. Semangkuk bakwan ini isinya campur-campur, ada mie, bihun, tauge, bakso, pangsit goreng, siomay. Cukup kenyang dan bisa mengganjal perut sampai nanti makan malam. Saya tidak tahu persis berapa harga semangkuk bakso malang ini, biasanya semangkuk bakso malang plus teh botol harganya Rp8500,-. Karena saya suka pangsit gorengnya, saya sering nambah pangsit gorengnya lagi. Pangsit gorengnya murah, Rp1500 dapat 2. Jauh lebih murah daripada makan pangsit gorengnya bakmi GM 😀 . Jadwal makan bakwan biasanya pukul 5 sore. Di saat orang-orang banyak yang segera pulang ke rumah, saya biasanya turun ke dekat parkiran mobil makan bakwan dengan rekan-rekan. Habis itu lanjut lagi duduk manis di kantor sampai sekitar pukul 8, kerja lagi? Gak juga, kadang ngeblog, bikin komik, atau utak-atik server lagi :-p

Batam (part 2) – Mie Goreng Berkuah

Kemarin malam saya pesan makan lewat room service hotel. Saya pesan Fried Hokkien Mee (gak tahu juga kenapa mie ditulis “mee”). Harganya menurut saya mahal S$6.5, gimana gak mahal harganya ditulis dalam Singapore dollar 🙁 Tidak sampai setengah jam pesanan saya datang. Aneh, pesan mie goreng kok dapatnya mie kuah. Room boy yang mengantarkan makanan menjelaskan kalau mie ini digoreng dulu baru dimasak dengan kuah. Saya tetap saja heran (campur kesal), dalam bayangan saya mie goreng ya seperti lazimnya mie goreng…lah ini kok malah pake kuah. Ini lihat gambarnya :

Isinya mie, ada jamur, ada udang, ada bakso ikan, dan sayuran juga. Kuahnya dicampur telur. Agak-agak mirip kalau saya bikin Indomie rebus pakai telur. Rasanya sih biasa saja, cuma karena malam kemarin saya lapar berat dan mie ini disajikan panas-panas rasanya jadi lebih enak 😀 Sorenya saya sudah makan di Solaria (yang ada di Nagoya Hill Batam), sekitar jam 5 sore saya makan. Tadinya saya gak niat makan malam, tapi sekitar setengah 12 malam saya lapar. Terpaksa deh buka-buka buku menu cari makanan yang kira-kira enak (dan gak terlalu mahal :-p ).

Jerman (part 12) – Liputan Kuliner

Ini adalah cerita lengkap saya tentang makanan-makanan apa saja yang sudah saya makan selama di Jerman. Berikut kumpulan foto-fotonya :

Ini keterangan foto-foto di atas :

  1. Makan di restoran Timur Tengah di stasiun kereta utama Frankfurt. Saya pilih menu nasi dengan ayam. Ayamnya super besar (ayamnya bule mungkin jadi besar juga 😀 ). Rasanya = gak enak.
  2. Sampai di Paderborn Minggu malam saya dan Pak Rully makan malam di restoran Burger Point. Saya pesan beef burger. Lumayan lah rasanya.
  3. Itu gambar foto menu sarapan pagi saya di hotel tiap hari. Sudah pernah saya bahas di postingan sebelumnya.
  4. Menu makan siang pertama saya di kantinnya Fujitsu Siemens Computer. Steak dada ayam. Rasanya tidak seenak tampangnya, lain di mata lain di lidah. Dimakan bersama kentang goreng yang dipotong kecil-kecil (bisa juga pesan meshed potato). Minumnya Coca Cola.
  5. Hari Selasa saya makan siang dengan menu “vegetarian cutlet with herb sauce” (foto 5 bagian kanan). Rasanya seperti perkedel kentang di Indonesia. Cuma ini lebih banyak rasanya, mungkin karena lebih banyak macam sayuran nya. Sosis babi tuh yang sebelah kiri (akhirnya makan babi juga di Jerman :(( ) campur kentang goreng lagi. Kurang banyak, saya ambil lagi roti Perancis bulat yang dijamin bikin kenyang. Minumnya Granini jus jeruk.
  6. Hari Rabu saya makan sosis daging burung (entah burung apa….katanya daging dari sejenis burung tapi bukan ayam). Lagi-lagi dimakan dengan kentang goreng. Menunya itu saja plus ice cream, snack (KitKat), & ambil permen juga. Minumnya Granini jus apel.
  7. Hari Kamis menu yang saya ambil terlalu besar porsinya. Babi lagi euy…kali ini daging babi cincang dibuat semacam bakso tapi bentuknya bulat pipih. Ditambah kentang goreng lagi. Saya pesan spagheti tapi liat porsinya besar (gak abis tuh :-p ). Benar-benar kekenyangan. Minumnya Coca Cola lagi.
  8. Kamis malam saya balik lagi ke restoran Burger Point. Kali ini idenya Manggar beli chicken wings. Ternyata enak betul sayap ayam gorengnya. Mungkin karena beberapa hari ini makan makanan yang flat saja rasanya, jadi makan sayap goreng yang spicy ini terasa enak sekali. Beli chicken wing yang porsi isi 6 sayap, plus kentang goreng (di sini kentang goreng disebut “pommens” kalau tidak salah). Gila ya di sini masa minta saus tomat saja dikenakan biaya 0.3 euro.

Dari 8 menu di atas yang paling cocok dengan lidah saya cuma sayap ayam goreng dan kentang gorengnya Burger Point. Makanan yang lain bisa masuk ke perut saya tapi tidak berbekas (alias tidak mak nyuss ;)) pinjam istilahnya Bondan Winarno). Beberapa yang unik di sini antara lain : bubuk lada tidak terasa pedas, sambal kering pun tidak terasa pedas walaupun saya sudah makan cukup banyak.