Tanah Abang Sudah Lancar

Sudah beberapa kali ini saya lewat jalan Tanah Abang & merasakan betul bedanya. Sekarang Jl.KH Mas Mansyur (nama jalan Tanah Abang sekarang) sudah tidak lagi macet. Tadi saya melintas dari Casabalanca menuju Cideng dengan menggunakan taksi. Biasanya macetnya akan panjang mengular terutama sebelum masuk underpass Tanah Abang. Bila sedang macet-macetnya, ekor kemacetan bisa sampai flyover Pejompongan.

Foto di atas adalah area pertokoan di dekat ujung masuk underpass dari arah Karet. Sekarang di situ tidak terlihat lagi kepadatan kendaraan. Mega Kuningan menuju Tomang ditempuh hanya dalam waktu kurang dari setengah jam itu sudah sangat luar biasa. Mengingat saya melintas di jam sibuk sekitar pukul 4 sore, apalagi hari ini adalah hari Jumat & tanggal gajian pula πŸ™‚ Jempol dua untuk Pak Jokowi & Pak Ahok untuk keberhasilannya menertibkan kawasan Tanah Abang.

HBDI

Bulan lalu saya mengikuti training HBDI di Singapore. HBDI adalah singkatan dari Herrmann Brain Dominance Instrument, sebuah program buatan Ned Herrmann untuk menganalisis kencenderungan mental seseorang dalam berpikir & bersikap. Konsep otak kanan dan otak kiri sudah saya kenal sejak lama, itupun sebatas pemahaman awam. Seperti misalnya orang dengan otak kiri yang lebih dominan cenderung akan menyukai hitung-hitungan & segala hal yang berbau teknis; dan sebaliknya orang dengan otak kanan yang lebih berkembang akan punya kelebihan di bidang sastra, seni, hafalan, dsb.

HBDI ini menurut saya adalah pengembangan dari konsep otak kanan otak kiri itu. Singkatnya dalam HBDI, otak manusia digambarkan sebagai 4 kuadran : biru, kuning, merah, dan hijau.

Orang yang berada pada kuadran biru akan cenderung berperilaku logis, analitis, teknis, & mengandalkan fakta-fakta untuk memutuskan segala sesuatu. Orang pada kuadran hijau akan memiliki ciri-ciri menyukai segala sesuatu yang tertata rapih, senang mengorganisir banyak hal, segala sesuatunya harus dalam prosedur & langkah-langkah yang terencana baik. Orang yang terkelompok pada kuadran merah akan punya kecenderungan untuk berinteraksi sosial lebih daripada yang lain, emosional, suka berekspresi, senang mendengar pendapat orang lain sebelum membuat sebuah keputusan. Sementara orang yang berada pada kuadran kuning lebih suka hal-hal yang abstrak (dalam tataran konsep), visual, melihat segala sesuatu dalam skala makro.

Rata-rata manusia dominan pada 2 kuadran yang berbeda. Jarang sekali orang yang dominan pada keempat kuadran tadi. Banyak contoh nyata yang diberikan oleh pembicara pada training kemarin. Contoh-contoh nyata tersebut misalnya seseorang yang senang menepuk lengan tamunya saat berjabat tangan, kemungkinan besar memiliki kencenderungan berada pada kuadran merah. Contoh lain seorang akuntan biasanya memiliki kelebihan pada kuadran hijau, karena menyukai hal-hal yang detil, sistematis.

Sementara seorang bos atau pimpinan perusahaan yang sukses biasanya cenderung memiliki kelebihan pada kuadran kuning. Kok bisa? Lihat saja berapa sering seorang bos akan menerapkan target yang sepertinya tidak masuk akal & membuat semua anak buahnya garuk-garuk kepala. Itu karena sang pimpinan melihat jauh ke depan, berani “bermimpi” & berfokus pada visi misi yang kadang terlihat mustahil dilaksanakan.

Sementara seseorang yang skeptis bisa jadi contoh orang yang berada pada kuadran biru. Skeptis bagaimana? Lihat saja bagaimana orang yang tidak gampang percaya sebelum disodori setumpuk fakta, atau orang yang gemar menganalisis segala sesuatu.

Contoh kasus yang diberikan juga membantu saya memahami perbandingan tiap kuadran. Misalnya saat seseorang akan membeli mobil (asumsi uang bukan masalah).

  • Orang yang dominan pada kuadran biru akan menganalisis apa keperluannya membeli mobil, seberapa irit konsumsi BBMnya. Sekadar contoh mungkin saja orang pada kuadran biru akan memutuskan untuk membeli city car karena irit konsumsi BBM & cukup memenuhi kebutuhan mobilitasnya sehari-hari.
  • Orang pada kuadran hijau akan secara detail membaca spesifikasi teknis mobil lalu membandingkannya satu sama lain. Saya lupa untuk kuadran ini contoh mobil apa yang kemungkinan besar akan dibeli πŸ™‚
  • Orang pada kuadran merah akan menanyai banyak rekannya tentang mobil, mencari referensi dari rekan-rekannya tentang mobil apa yang bagusnya dibeli. Sebagai ilustrasi, orang pada kuadran merah bisa jadi berakhir membeli mobil MPV, mobil keluarga yang bisa mengangkut banyak orang.
  • Sementara orang pada kuadran kuning akan melihat prestige, visualisasi, mencari mobil yang bisa menjadi aktualisasi dirinya. Sebagai contoh orang pada kuadran kuning mungkin akan membeli mobil sport seperti Ferrari untuk sarana aktualisasi dirinya.

Training kemarin mengajarkan saya bagaimana mengenali di kuadran mana saya lebih dominan. Setelah mengenali diri sendiri, lalu berikutnya adalah mempelajari bagaimana saya bisa berinteraksi dengan orang yang berada pada kuadran yang berseberangan. Mengapa harus memahami orang yang berada pada domain/kuadran yang berseberangan? Karena hal-hal yang disukai oleh orang pada kuadran tertentu bisa jadi merupakan hal yang sangat menyebalkan bagi orang pada kuadran seberangnya.

Contoh gampangnya ketika rapat dengan pimpinan (yang berada pada kuadran kuning), karyawan yang domain pada kuadran hijau akan sedikit merasa bosan dengan “teori”/visi misi yang disampaikan sang pimpinan. Mengapa demikian? Karena sang karyawan lebih suka to the point, memikirkan apa langkah riil yang harus diambil, prosedur apa yang harus diikuti untuk mewujudkan visi-misi sang pimpinan.

Hal lain yang mungkin berbenturan adalah ketika orang yang memiliki kecenderungan pada kuadran biru bertemu dalam suatu meeting dengan orang yang berada pada kuadran merah. Si biru akan langsung bicara fakta, tanpa basa basi ini itu. Sementara si merah akan lebih suka membuka rapat dengan aneka basa-basi, menyapa orang-orang dalam ruangan rapat. Si biru akan melihat si merah sebagai orang yang bertele-tele buang-buang waktu. Sebaliknya si merah akan melihat si biru sebagai orang yang kurang peka terhadap sesama rekan kerjanya karena hanya memikirkan pekerjaan tanpa ada relasi sosial yang baik. Masing-masing tipe tadi tidak ada yang benar & tidak ada yang salah. Semua punya kelebihan masing-masing. Nah situlah pesan yang ingin disampaikan pada training kemarin, bagaimana menciptakan harmoni antara orang-orang dari berbagai macam kuadran.

Kira-kira 1 bulan sebelum sesi training di Singapore, panitia mewajibkan saya untuk mengisi aplikasi online berupa sekumpulan kuisoner. Hasil dari kuisioner itulah yang kemudian diformulasikan menjadi HBDI profile saya (gambar di atas). Ajaibnya apa yang ditampilkan pada hasil tadi cukup tepat merepresentasikan siapa saya. Saya merasa dominan pada otak kiri sehingga tidak aneh bila ternyata saya cukup dominan pada kuadran biru & hijau. Dari mana saya tahu kalau hasil hasil HBDI tadi tepat? Setidaknya hal ini mungkin bisa jadi faktanya :

  • saya senang mendokumentasikan hal-hal teknis, membuat how-to document.
  • saya senang utak-atik komputer, mencoba belajar ini itu di komputer.
  • saya benci menghadiri meeting yang bertele-tele.
  • saya senang mengajar, ada kepuasan tersendiri bisa sharing ilmu dengan orang lain. Katanya orang yang gemar mengajar berada pada kuadran merah.
  • saya benar-benar ngantuk saat pimpinan bicara soal visi misi πŸ˜€

Lebih kurang seperti itu yang saya tangkap sebagai hasil mengikuti training HBDI.

Nuansa Imlek Di Mal

20130203-235055.jpg

Mal memang gambaran multikultur yang paling nyata. Lebaran datang, berhiaslah mal dengan segala pernak pernik Idul Fitri. Biasanya ketupat jadi ciri yang paling gampang dilihat. Bila Natal datang, pohon natal & segala aksesorisnya jadi pusat perhatian di banyak mal & pusat perbelanjaan. Demikian pula dengan Imlek atau tahun baru Cina.Β Tahun Baru Cina (Imlek) sebentar lagi, tanggal 10 Februari kalau tidak salah. Banyak mal & pusat perbelanjaan sudah berhias dengan aneka ornamen bernuansa Chinese New Year. Tadi saya mampir ke Mal Kelapa Gading, dari pintu masuk saja sudah berhias gapura ala China. Selama menunggu jemputan di lobi, sedikitnya ada 3 group pengunjung yang menyempatkan diri berfoto dengan gapura itu sebagai latar belakangnya. Di dalam mal juga sama, banyak orang berfoto dengan background aksesoris Imlek seperti pohon-pohon Sakura (entah apa sebenarnya jenis pohon berbunga warna pink itu).

Anomali Demo & Kemacetan

Kemarin beberapa demo berskala cukup besar meramaikan ibukota Jakarta. Di seputaran bundaran Hotel Indonesia sampai Monas keramaian demo berpusat. Hari Anti Korupsi katanya jatuh tanggal 9 Desember, entah siapa yang menentukan 9 November sebagai hari untuk memperingati anti korupsi. Anehnya hari ini saya merasakan Jakarta cukup lengang, beberapa orang yang saya jumpai juga merasakan hal yang sama. Mungkin ini ada kaitannya dengan ramalan Presiden SBY tentang bakal adanya kerusuhan di tanggal 9 November. Hari Senin lalu sempat beredar rumor akan ada rusuh di Jakarta. Syukurnya hari Selasa sudah kita lewati dengan aman. Sebuah anomali, biasanya demo identik dengan kemacetan. Aman di Jakarta belum tentu di tempat lain. Di televisi saya lihat demo memperingati hari Anti Korupsi berakhir anarkis di Makassar. Massa (entah hanya mahasiswa atau bukan) melempari gedung kantor Gubernur Sulawesi Selatan, ada restoran KFC juga jadi sasaran lemparan. Ah saya jadi mikir apakah benar dengan demonstrasi anarkis korupsi hilang dalam sekejap?

Trend Loncat Bunuh Diri

Pagi ini saya baca di Detik.com seorang jemaah haji Indonesia loncat dari lantai 6 tempat pemondokannya di Mekkah. Berita lain yang serupa seorang pria jatuh dari lantai 5 Senayan City Mal Jakarta….tewas pastinya. Kemarin sore pun demikian, saya baca Detik.com dan ada berita seorang perempuan diduga bunuh diri loncat dari lantai 5 Mal Grand Indonesia. Walah-walah ada apa ini? Apa tiga kasus loncat (entah bunuh diri atau bukan) dari ketinggian sedang jadi trend? Atau gejala stress sedang mulai mewabah? Ah mungkin terlalu jauh kalau saya katakan stress mulai mewabah. Tapi paling tidak secara sepintas, otak saya mencoba menarik benang merah antara 3 kasus yang berbeda-beda itu.

Minggu lalu selepas hari raya Idul Adha, saya beberapa kali melihat berita tentang pembagian daging kurban yang berakhir ricuh. Para penerima daging kurban yang kebanyakan perempuan saling berdesakan bahkan sampai ada yang jatuh terinjak. Saya jadi ingat tahun lalu pernah menulis hal yang sama di blog ini. Tahun lalu ada juga kasus desak-desakan tapi momennya sedikit berbeda, kali itu pembagian zakat. Tahun berganti tapi kasus yang sama tetap terjadi. Lebaran 2009 ini juga diwarnai hal yang senada. Waktu itu kalau tidak salah pembagian zakat yang semrawut di Balai Kota Jakarta. Sampai-sampai katanya Gubernur DKI Fauzi Bowo “kapok” mengadakan pembagian zakat secara massal. Tidak cuma pembagian daging kurban dan zakat, pembagian BLT (bantuan langsung tunai) juga pernah disemarakkan dengan aksi saling dorong.

Cukup miris hati saya menyaksikan ibu-ibu tua berdesak-desakan di Istiqlal untuk mendapat jatah beberapa kilogram daging. Rasa-rasanya jaman saya kecil tidak pernah ada berita seperti ini selama hari raya kurban. Entah apakah dulu memang siaran berita kurang secepat dan seteliti sekarang meliput kejadian-kejadian macam ini atau dulu memang tidak ada sama sekali hal serupa. Pilihan terbaik adalah menganggap kalau dulu saya tidak terlalu memperhatikan hal macam itu. Tapi kalau memang benar dulu tidak ada adegan berebut daging kurban dan sekarang faktanya belakangan rutin terjadi, berarti samtingrong (pelesetan dari something wrong :p ) kan? Tentu ada yang salah, tentu ada parameter lain yang berubah. Parameter kemiskinan? Ah masa iya? Kalau pakai logika bodoh-bodohan ada beberapa kemungkinan parameter lain :

  • Jumlah orang miskin meningkat di kota besar (di Indonesia secara umum??)
  • Jumlah daging kurban yang dibagikan berkurang.
  • Harga daging melambung di pasaran sampai-sampai banyak orang jadi jarang makan daging.
  • Keserakahan meningkat (kabarnya diberitakan ada orang dari Bogor naik taksi ke Istiqlal untuk ambil daging kurban…nah loh??)

Mungkin beberapa dari Anda akan sepikiran dengan saya tentang poin pertama, kemiskinan meningkat. Karena kalau ditilik lebih jauh poin 2 dan 3 itu adalah turunan dari poin pertama (paling tidak berkorelasi). Krisis membuat jumlah kurban berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan krisis membuat harga daging naik melampaui daya beli masyarakat. Sepertinya saya kurang pas berkomentar soal ini. Kalau seorang Tedy menulis soal Linux/UNIX, internet mungkin masih cukup pantas tapi bicara soal kemiskinan rasanya benar-benar kurang pas….motong kambing/sapi pun tidak πŸ˜€ Sekadar curahan pikiran saja yang tergelitik apa kemiskinan memang benar naik sampai-sampai mendongkrak tingkat stres di masyarakat. Upsss…sudah setengah 9 rupanya, saatnya mandi dan berangkat ke kantor :p