Selamat Idul Fitri 2009

Lebih 2 minggu ke belakang, saya tidak menulis apa-apa di blog ini. Tidak terasa besok sudah hari raya Idul Fitri, ijinkan saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi Anda semua yang merayakannya.

Foto di atas diambil saat saya ikut berbuka puasa bersama rekan-rekan kantor di Grand Melia Hotel Jakarta. Ya harus diakui walaupun saya tidak ikut berpuasa, tapi saya cukup rajin ikut acara buka puasa bersama 😀 tentu untuk menghargai ajakan rekan-rekan kantor. Terhitung 4 kali ikut acara buka puasa bersama, dua kali di Grand Melia, satu kali di Ritz Carlton, dan satu kali di Tomodachi Cafe. Dua di antaranya adalah makan-makan internal eServglobal Indonesia, sementara dua lainnya adalah acara buka puasa bersama customer kantor. Biasanya saya cukup rajin motret kalau ada acara makan-makan, tapi 4 kali ini saya tidak banyak memotret. Kehilangan mood dan tidak bawa DSLR jadi alasan…agak malas memotret dengan kamera saku yang tiap hari nempel di ikat pinggang saya. Foto di atas misalnya, foto seadanya dengan kamera saku saya….kebetulan melihat objek yang cukup menarik komposisinya.

Kalau musim lebaran tahun lalu saya bertugas di Surabaya, tahun ini saya di Jakarta saja. Ada tugas monitoring server-server Intelligent Network-nya Excelcomindo. Eservglobal kantor saya saat ini punya produk aplikasi IN (intelligent network), salah satu client-nya adalah XL. Seperti pengalaman yang sudah-sudah, dipastikan ada lonjakan trafik telepon dan SMS pada hari-hari sebelum dan sesudah lebaran. Makanya perlu monitoring khusus untuk beberapa hari ini. Ada sekitar 75 server yang harus diamati, pekerjaan yang menegangkan sekaligus membosankan. Mudah-mudahan tidak ada masalah selama periode ini. Sejak kemarin saya masih bekerja dari rumah, melakukan remote untuk monitoring. Tapi besok saya berangkat ngantor ke XL :(( .

Ya sudah cukup postingnya, lanjut monitoring lagi 😀

Ibu Prita VS Manohara

Dari minggu lalu saya baru tahu tentang kasus yang menimpa Ibu Prita Mulyasari. Curhatnya lewat media internet soal pelayanan yang buruk di rumah sakit Omni Internasional berbuntut panjang. Dia terpaksa ditahan pihak berwajib karena pihak rumah sakit menuntutnya dan menjeratnya dengan pasal pencemaran nama baik UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Halah saya benar-benar kaget membaca berita soal Ibu Prita ini. Kasihan sekali rasanya, mungkin seperti sudah jatuh tertimpa tangga, tangganya digilas kuda, kudanya hamil kembar dua belas.Berita lengkapna Anda bisa membacanya di Surat Pembaca Detik.com. Saya pun dulu pertama kali tahu kasus ini karena membaca berita di Detik.com itu. Tak menyangka belakangan banyak dibahas kalau Ibu Prita itu malah diadukan ke pengadilan oleh pihak rumah sakit. Dan lebih kaget lagi setelah tahu kalau Ibu Prita ditahan pihak berwajib selama proses pemeriksaan.

Hmm pasal pencemaran nama baik memang multiinterprestasi. Banyak sekali celah yang bisa dijadikan cara untuk menjegal lawan/pihak yang berseberangan. Kasus yang menimpa Ibu Prita itu benar suatu bukti bahwa menjegal orang lain dengan pasal pencemaran nama baik UU ITE bisa dilakukan terlepas dari fakta & latar belakang siapa yang benar dan siapa yang salah. Jangan-jangan tulisan-tulisan saya seperti misalnya review hotel bisa bernasib sama :(( Siap-siap balik lagi ke era serba tutup mulut kalau begitu. Kemarin saya juga sempat melihat banyak blogger-blogger terkenal di Indonesia sudah menuliskan keprihatinan mereka soal Ibu Prita. Sampai-sampai ada yang membuat situs khusus untuk menggalang keprihatinan dan protes keras atas tindakan ketidakadilan yang dialami oleh Ibu Prita, situsnya adalah http://ibuprita.suatuhari.com. Saya juga sudah ikut pasang banner-nya di blog ini : Selamatkan Ibu Prita Mulyasari.

Tapi herannya sepanjang pengamatan saya, di televisi jarang ada berita soal Ibu Prita ini. Entah saya yang kurang nonton TV atau memang benar tidak ada. Minggu ini saja, televisi sibuk beramai-ramai membahas yang namanya Manohara. Kasus ini sepertinya lebih menjadi favorit. Entah mana yang lebih penting, tapi menurut saya pribadi kasus Ibu Prita ini sungguh lebih pantas di-blow up ke masyrakat luas daripada kasusnya Manohara. Media memilih yang lain, kasus Manohara benar-benar jadi idola di hampir semua media massa. Lihat saja hampir semua stasiun televisi baik acara berita maupun entertainmen memberitakan model satu itu.

Saya pribadi malah tidak punya rasa simpati apa-apa dengan kasusnya Manohara, jauh berbeda dengan rasa simpati saya dengan kasusnya Ibu Prita. Sejatinya kasus Manohara dalam benak saya hanya kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kebetulan terjadi di luar Indonesia sehingga proses perlindungan hukum sedikit tersendat. Lebih itu tidak. Perjuangan ibunya Manohara pun tidak menarik simpati saya. Kalau ABG bilang “lebay”, berlebihan lah… Ibunya mendadak jadi selebritis. Wajahnya muncul terus di televisi, sampai bosan dilihat. Disambut oleh Laskar Merah Putih di bandara Soekarno Hatta, Manohara disambut bak pahlawan negara…geli saya melihatnya. Diberi topi dan rompi loreng-loreng (mungkin pakaian kebesaran Laskar tsb)…lebay kan? Ya suka-suka mereka sih bagaimana mengadakan penyambutan. Tapi di situ memang ironisnya…saya melihat keberpihakan media pada berita yang bakal menyedot rating tinggi. Salah? Tidak juga sih, namanya juga media tentu ingin bisa menampilkan siaran yang menarik banyak pemirsanya. Sepertinya masih banyak kasus kekerasan yang menimpa warga Indonesia tapi kalah populer dengan Manohara. Berapa banyak TKI yang mendapat kekerasan di luar negeri, belum lagi kasusnya David mahasiswa asal Indonesia yang terbunuh di Singapura…sepertinya masih kalah dengan kisahnya Manohara.

Ironis….banyak yang ironis. Yang sakit & dirugikan malah ditangkap, yang bermasalah dengan rumah tangganya malah disiarkan seheboh itu.

Update 25 Juni 2009 :
Hari ini Ibu Prita dinyatakan bebas oleh Pengadilan Negri Tangerang. Semua biaya pengadilan ditanggung negara. Saatnya menghapus banner “Bebaskan Ibu Prita Mulyasari” dari blog saya.

Betahkah Saya Di Jakarta

Ada pertanyaan kemarin dari salah seorang teman saya : betahkah kamu tinggal di Jakarta? Jakarta kan macet & panas. Kemarin saya jawab ini tuntutan kerja. Kalau saja di Bandung ada perusahaan yang mau menggaji saya sama seperti yang saya terima sekarang, mungkin saya akan pilih kerja di Bandung. Sampai saat ini menurut saya Bandung “the best” lah untuk tinggal, untuk cari kerja sepertinya Jakarta masih lebih baik. Memang kalau dihitung-hitung mungkin ujung-ujungnya sama saja, biaya hidup di Jakarta kan pasti lebih besar daripada Bandung.

Seorang sepupu saya ada juga yang urung kerja di Jakarta setelah melihat (dan merasakan sendiri) bagaimana macet dan “semrawut”-nya Ibukota. Dia dari lahir sampai SMA tinggal di Semarang, melanjutkan perguruan tinggi di Salatiga. Ketika lulus dan dalam tahap mencari kerja, ada salah satu perusahaan yang mengundangnya interview di Jakarta. Tinggallah dia beberapa hari di rumah kakaknya di Jakarta. Sambil interview dan mencoba mengenal Jakarta. Ah rupanya dia malah takut dengan keramaian Jakarta. Interviewnya gagal, dan dia pun memutuskan pulang lagi ke Semarang. Sekarang dia kerja di kota Kudus. Oh ya saya lupa menyebutkan kalau saudara sepupu saya tadi itu laki-laki loh 😀

Minggu lalu rekan saya juga cerita hal yang sama. Katanya temannya memilih pulang ke Medan, gak tahan kerja di Jakarta. Temannya memilih lebih baik digaji lebih rendah daripada tinggal di Jakarta dengan gaji yang lebih besar. Sebegitukah tidak enak kah tinggal di Jakarta. Ah mungkin uangnya sudah banyak, digaji kecil pun tidak jadi masalah. Nah saya kan butuh masa kesempatan bagus ditinggalkan 🙁 Salah seorang kenalan saya pun demikian, baru dipanggil interview ke Jakarta saja sudah pusing 7 keliling. Kalau yang ini masih bisa dimaklumi, anak perempuan satu-satunya….wajar kalau sedikit takut dan grogi pergi ke Jakarta. Saya dengar sampai diantar bapaknya ke Jakarta. Terakhir saya dengar dia pilih kerja di Bandung.

Dulu saat masa akhir kuliah, saya pun tidak berpikir kerja di Bandung. Pikiran saya satu, kerja di Jakarta bagaimana pun caranya….mental karyawan kali ya :)) Bersyukur pula sebulan setelah lulus, saya sudah dapat kerja di Jakarta. Waktu itu September 2006 saya pertama kali kerja dan menetap di Jakarta. Untungnya saya bisa beradaptasi dengan segala kesemrawutan Jakarta. Macetnya lah, panasnya lah. Lalu apa hubungannya denganfoto di atas? Sebenarnya tidak ada hubungannya…tadi saya bingung cari foto ilustrasi untuk tulisan ini 😀 Buka buka folder foto, sepertinya yang paling nyambung foto “pantat” Metromini itu. Paling tidak itu yang bisa mewakili ruwetnya jalanan Jakarta. Anda yang ke mana-mana naik motor, pasti sudah kenyang dengan semburan asap knalpot Metromini. Anda yang kemana-mana naik mobil, mungkin juga sering dipotong jalannya oleh Metromini. Paling tidak sudah pernah macet tepat di belakang Metromini.

Jadi kalau ditanya betahkah saya di Jakarta, saya akan bilang : betah. Tapi untuk masalah tempat tinggal saya lebih memilih Bandung. Cirebon, kota kelahiran saya sendiri, saya malah taruh di urutan 3. Cirebon terlalu panas, Jakarta bosan dengan macetnya. Jadi betahnya saya mungkin cuma karena di Jakartalah saya dapat pekerjaan dengan gaji yang saya ingini.

**Sepertinya ada yang aneh dengan tulisan saya kali ini…tapi apa ya? :-/ **

Soal KTP

Ternyata tidak mudah (dan tidak murah) juga mengurus KTP di Jakarta. Sudah 2 tahun lebih saya tinggal di Jakarta, saya masih tercatat sebagai pemegang KTP Cirebon. Akhir 2008 lalu, KTP saya habis masa berlakunya. Bulan lalu saya mencoba mengurus surat pindah dari Cirebon supaya bisa mengurus KTP Jakarta. Repot juga tinggal di Jakarta dengan membawa KTP Cirebon, susah kalau mau ngurus apa-apa.

Katanya dulu cukup mudah membuat KTP di Jakarta. Sistem “nembak” alias jalur tidak resmi, cukup membayar sekian ratus ribu rupiah kita sudah bisa memiliki KTP di Jakarta.Sekarang katanya sulit mengikuti cara ini. Harus lewat jalur resmi. Resmi di sini maksudnya adalah harus menyertakan kelengkapan dokumen-dokumen. Dokumen yang dibutuhkan antara lain : fotokopi KTP asal, surat keterangan pindah dari kota asal, surat keterangan kelakukan baik dari kepolisian, surat pengantar dari RT/RW di Jakarta, plus pas foto. Saya harus membayar Rp350.000,- untuk biaya pengurusan KTP ini. Oknum Kelurahan Tomang yang memberi tarif sebesar itu walaupun saya sudah mengikuti prosedur pengurusan KTP secara resmi. Katanya biar prosesnya bisa cepat (cepat = 2 minggu). Kalau tidak ada biaya pengurusan ini bisa memakan waktu berbulan-bulan. Waktu saya baca tulisan-tulisan di Internet, tidak sedikit cerita tentang betapa sulitnya (dan mahalnya) pengurusan KTP di Jakarta. Jangankan mengurus KTP dari daerah di luar Jakarta, orang Jakarta yang pindah alamat saja susah sekali mengurus KTP. Kalaupun bisa, tidak sedikit uang yang harus dibayarkan pada petugas kelurahan.

Yang lucu adalah situs ini : http://www.kependudukancapil.go.id/index.php/produk-a-layanan/kartu-tanda-penduduk. Di situs Dinas Kependudukan & Catatan Sipil Pemda DKI, dituliskan tarif pembuatan KTP adalah GRATIS. Gratis dari Hongkong…mungkin gratis kalau saya datang ke kelurahannya ditemani Pak Fauzi Bowo. Kira-kira Pak Fauzi Bowo tahu gak ya kalau anak buahnya semua “bermain” dengan biaya pengurusan KTP? Kalau memang tidak bisa gratis kenapa Pemda menjanjikan pengurusan KTP tanpa biaya.

Beberapa waktu lalu rekan saya juga kena palak oknum kelurahan. Ceritanya dia ingin memperpanjang KTP. Biaya perpanjangan KTP Rp20.000,- tapi oknum kelurahan malah cerita susah karena rumahnya terkena musibah kebakaran. Alhasil teman saya harus “membayar” Rp50.000,- lagi untuk membuat proses perpanjangan KTPnya cepat selesai. Ah maafkan saya kalau jadi berpikiran negatif tiap-tiap berurusan dengan pegawai pemerintahan. Salah siapa kalau saya punya persepsi buruk dengan layanan publik dari pegawai pemerintahan?

Motret Pemilu

Kamis pagi saya segaja bangun pagi walaupun malamnya saya baru tidur sekitar pukul setengah 4 pagi. Kamis 9 April 2009 ini serentak di seluruh Indonesia diadakan pemilihan umum untuk memilih “wakil rakyat”. Jam 8 lebih saya bangun tapi baru berangkat ke TPS sekitar jam 10. TPS itu singkatan Tempat Pemungutan Suara bukan Tempat Pembuangan Sampah loh ya ;)). Kalau dipikir-pikir aneh juga penamaannya, kata “pemungutan” memangnya apa yang terbuang sampai harus dipungut-pungut =))

Niat saya bangun pagi bukan untuk ikut memilih tapi untuk memotret. Saya pikir tidak rugi mengabadikan momen 5 tahunan ini. Kebetulan Pak Hendro – bapak kos saya – bertugas sebagai Ketua Penitia Pemungutan Suara. TPS-04 persis berada di depan kos saya di bangunan bekas sekolah yang sudah lama tidak dipakai. Selain TPS-04, bekas gedung sekolah itu juga digunakan sebagai tempat TPS-05. Acara di TPS – 04 dimulai sekitar pukul 7 pagi dan dijadwalkan selesai pukul 12 siang. Saat saya datang ke TPS suasana masih cukup ramai. Warga yang ingin memilih masih berdatangan, tidak berduyun-duyun tapi terus menerus 1 – 2 orang datang.Menurut ketua TPS – 04, cukup banyak juga warga yang tidak terdaftar. Kalau menurut Detik.com, itu terjadi karena buruknya pendataan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Selasa lalu saya baru menerima KTP Jakarta, jadi saya maklum saja kalau belum terdaftar. Wajib maklum donk, lah wong yang jadi warga selama puluhan tahun saja bisa luput dari Daftar Pemilih Tetap. Oh ya sebenarnya saya sudah menuliskan pengalaman saya membuat KTP di Jakarta tapi malah belum saya publish (menyusul saja).

Surat suara yang dipakai di Pemilu legislatif ini besar ukurannya, sepertinya hampir sebesar ukuran lembaran surat kabar. Yang menarik adalah banyak sekali pemilih yang tidak tahu bagaimana cara memilih yang benar. Yang saya perhatikan, ukuran surat suara yang hampir sebesar lembar surat kabar itu cukup menyulitkan pemilih. Petugas TPS beberapa kali membantu warga melipat surat suaranya. Surat suara yang besar itu berisi daftar nama calon legislatif dari masing-masing partai yang ikut Pemilu. Ah saya kok tidak yakin warga yang ikut Pemilu kenal orang-orang itu. Cerita 2 orang rekan saya juga senada dengan opini saya tadi, mereka hanya kenal AM Fatwa di antara sekian nama calon yang tercantum di surat suara mereka. Ah bukan urusan saya juga menilai sistem pemilihan umum di negara kita ini 🙁

Seperti Pemilu-Pemilu sebelumnya warga yang sudah selesai mengisi surat suara & memasukannya ke dalam kotak, diwajibkan mencelupkan ujung jarinya ke dalam tinta khusus. Katanya tinta ini tahan menempel di kulit sampai lebih dari 1 hari. Tinta ini diharapkan bisa mencegah warga memilih lebih dari 1 kali….memangnya ada ya orang yang niat memilih sampai 2 kali? Hampir sejam lebih saya berada di area TPS, tapi tidak cukup puas dengan hasil foto-fotonya 🙁 . Foto-foto lainnya saya taruh di Flickr.