Theme Song Film Keren

Di balik film-film hebat (hebat dalam artian saya suka nontonnya 🙂 ), selalu ada theme song yang keren. Hmm…masih belum paham apa padanan kata untuk theme song (musik tema??). Yang saya maksud itu musik pengiring adegan. Belakangan saya jadi suka mendengarkan musik latar gubahan Hans Zimmer. Berikut beberapa film yang saya suka dan musik pengiringnya :

  1. The Last Samurai
    Dengarkan contohnya di sini
  2. Da Vinci Code
    Dengarkan contohnya di sini
  3. Angel & Daemon
    Dengarkan contohnya di sini
  4. The Pasific (HBO serial)
  5. Armagedon
    Dengarkan contohnya di
    sini
  6. Kungfu Panda

Ada kesan megah di hampir semua lagu-lagu tersebut. Itu juga mengingatkan saya tentang filmnya. Bagi saya pribadi film yang hebat adalah film yang tidak membosankan; ditonton berkali-kali pun tidak bosan dan tetap setia nontonnya dari awal sampai akhir film. Tidak harus film bervisual efek dahsyat, film drama komedi pun bisa jadi film yang saya suka menontonnya berkali-kali. The Bucket List misalnya, film ini selalu membuat saya duduk (kebanyakan tiduran di depan TV sih :p ) menontonnya tiap kali ada kesempatan. Minggu lalu misalnya, saya lebih kurang 5 kali menonton Kungfu Panda :)) Itu gara-gara HBO Family memutar ulang Kungfu Panda berkali-kali dalam satu minggu, mungkin hanya kebetulan beberapa hari itu saya nyangkut di saluran itu pula.

Balik lagi soal Hans Zimmer, saya niat mencari musik-musik gubahannya itu juga karena berkali-kali nonton Kungfu Panda. Saya penasaran dengan musik latar di beberapa adegan, saat saya cari di Google saya jadi tahu penata musiknya adalah Hans Zimmer. Dari situ saya tahu pula ternyata beberapa film hebat ditata musiknya secara apik oleh Hans Zimmer (dari situ pula awal munculnya daftar film di atas). Film seri The Pasifik malah sebaliknya, saya suka theme song-nya & kebetulan membaca “Hans Zimmer” di daftar pembuat film yang ditayangkan sebelum film mulai. Langsung saya coba Googling dan memang benar musik tema gubahan Hans Zimmer itu keren 😀

Indovision Billing Error

Rabu malam lalu (29 April 2009) muncul sebuah gambar amplop di layar televisi saya. Biasanya amplop tersebut berisi pesan dari Indovision untuk pelanggannya. Informasinya misalnya pemberitahuan promosi, event yang diselenggarakan Indovision, atau juga alert soal jumlah tagihan yang belum terbayar. Saat saya buka pesan tersebut ternyata isinya adalah peringatan tagihan yang belum terbayar untuk periode bulan ini. Screenshot-nya seperti ini :

Kaget juga saya membaca pesan ini karena saya ingat Jumat lalu saya sudah membayar tagihan Indovision lewat ATM BCA. Kaget yang kedua karena melihat jumlah yang ditagihan lebih besar daripada jumlah yang biasa saya bayarkan tiap bulannya (Rp239.000,-). Saat itu posisi saya sudah di kasur, menjelang tidur. Terdorong rasa penasaran saya bangun lagi. Pertama ambil kamera motret tampilan pesan itu lalu mencari struk transfer BCA sekadar ingin mencocokkan nomor account Indovision saya. Untung slip transfer BCA masih saya simpan. Nomor account yang tercantum di pesan yang muncul di layar TV saya ternyata berbeda dengan nomor account Indovision saya.

Saya masih belum yakin, jangan-jangan saya salah mentransfer pembayaran Indovision. Saya cari lagi amplop tagihan Indovision bulan sebelumnya, ternyata saya tidak salah. Nomor account Indovision saya sudah benar. Saya yakin ada yang salah dengan sistem billing-nya Indovision. Saat itu sudah hampir jam setengah 1 malam, inginnya segera komplain tapi mata sudah benar-benar ngantuk. Saya putuskan besok saja telepon ke Indovisionnya. Ini di luar kebiasaan saya, ngantuk mengalahkan keinginan saya untuk ngomel-ngomel :-p

Hari Kamis saya malah lupa telepon ke Indovision. Kamis malam sepulang kantor saat saya menyalakan TV, ada lagi gambar amplop kecil tepat di bagian atas layar. Saat saya buka ternyata isinya informasi kesalahan tagihan dari Indovision. Screenshot-nya seperti ini :

Ok clear masalahnya, Indovision salah mengirim pesan informasi tagihan.

The Bucket List

the bucket listSejak Minggu lalu HBO menayangkan film berjudul “The Bucket List”. Ini film benar-benar bagus. Film ini diperankan oleh 2 aktor kawakan Hollywood, Jack Nicholson & Morgan Freeman. Jack Nicholson memerankan tokoh Edward Cole, sementara Morgan Freeman memerankan tokoh Carter. Keduanya diceritakan sebagai dua orang pengidap penyakit kanker stadium akhir. Keduanya sama-sama divonis dokter memiliki harapan hidup yang tinggal beberapa bulan saja.

Edward Cole adalah seorang yang sangat kaya, sebagai seorang ahli kesehatan dia memiliki rumah sakit sendiri. Rumah sakitnya sedikit unik, karena semua pasien ditempatkan dalam kamar yang berkapasitas 2 orang pasien. Di rumah sakit itulah Edward bertemu dengan Carter untuk pertama kalinya. Carter sendiri sebagai orang kulit hitam adalah seorang dari kalangan biasa saja. Carter bekerja sebagai montir selama 45 tahun. Biarpun berprofesi sebagai montir, Carter adalah orang yang cerdas. Keinginannya untuk belajar tidak pupus dimakan usia. Profesi montir diambilnya saat dia keluar dari bangku kuliah yang baru dinikmatinya selama 2 bulan. Dia berhenti kuliah saat Virginia, pacarnya, mengabarkan kalau dirinya sudah berbadan dua.

Edward Cole dan Carter punya cara pandang yang bertolak belakang soal kehidupan. Carter seorang yang boleh dibilang religius percaya akan iman dan kehidupan setelah kematian. Sebaliknya Edward adalah orang yang skeptis, tidak percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Karena ditempatkan dalam satu kamar untuk beberapa waktu, Edward & Carter jadi berteman. Carter diceritakan sebagai pria yang setia pada istri dan keluarganya. Edward sebaliknya diceritakan sebagai pria yang gagal dalam membangun keluarganya, terbukti dari 4 kali pernikahannya yang tidak pernah berhasil dan anak perempuan satu-satunya yang membenci dirinya.

Bucket List sendiri adalah sebuah daftar yang dibuat oleh orang-orang yang sedang sekarat. Daftar hal-hal yang ingin dilakukan sebelum ajal datang menjemput. Carter yang sedang terbaring sakit menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku. Selain itu Carter juga menuliskan hal-hal yang ingin dilakukannya sebelum meninggal dunia. Tanpa sengaja daftar ini dibaca oleh Edward. Edward bahkan tertarik dengan yang namanya “the bucket list” dia menambahkan banyak hal dalam daftar tersebut. Beda kepribadian membuat keduanya menuliskan hal-hal yang jauh berbeda dalam daftar tersebut. Misalnya Carter menuliskan ingin mengendari mobil Mustang Shelby 350 (mobil yang diidamkannya sejak muda). Edward menuliskan hal-hal yang lebih gila dalam daftarnya, terjun payung, berburu singa, dll 😀

Edward mengajak Carter untuk memulai petualangan mewujudkan satu persatu dari semua daftar itu. Awalnya Carter menolak, tapi akhirnya mereka sepakat bertualang dunia mewujudkan semua hal yang mereka catat dalam daftar itu. Petualangan mereka seru semua, terjun tandem, mengendarai Mustang Shelby 350 di sirkuit, pergi ke Great Wall di China, ke Taj Mahal di India, mengunjungi Piramida di Mesir, melihat singa dari dekat di Afrika, jalan-jalan ke Hongkong, naik ke Gunung Himalaya. Gunung Himalaya adalah obsesi Carter, sayangnya cuaca buruk menghadang mereka untuk sampai ke puncak gunung. Semua petualangan mereka bisa terlaksana karena Edward punya uang banyak. Mereka bepergian dengan pesawat jet pribadi.

Banyak dialog yang cukup berbobot dalam film ini. Salah satunya adalah bagaimana Carter menasihati Edward untuk mencoba membuka hubungan kembali dengan putri tunggalnya. Di akhir petualangan mereka, saat mereka pulang ke Amerika, Carter bekerja sama dengan Thomas (asisten pribadi Edward) diam-diam membawa Edward ke rumah putrinya. Edward marah dan menuduh Carter mencampuri urusan pribadinya. Mereka berpisah di sana, Thomas pun kena pecat karena dituduh mengkhianati Edward. Menjelang akhir film, Carter menjalani operasi kankernya. Sebelum operasi Edward mengunjungi Carter lagi. Mereka bermaafan dan bisa tertawa bersama. Dia meninggal di meja operasi. Carter sudah menuliskan surat untuk Edward, lagi-lagi pesan dalam surat itu adalah supaya Edward menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Akhirnya Edward Cole mau datang ke rumah anak perempuannya. Di sana Edward bertemu dengan cucu perempuannya. Edward meninggal tidak lama setelah Carter meninggal. Keduanya dikremasi, abu jenazahnya ditaruh di dalam kaleng yang kemudian dikubur di puncak gunung Himalaya.

Hmm benar-benar film yang bagus dan layak ditonton. Ada banyak nilai moral yang disampaikan dalam film itu. Dari kacamata saya, nilai-nilai penting itu adalah :

  • Nilai hidup kita ditentukan bukan hanya dari kebahagiaan yang kita capai tapi juga dari seberapa besar kebahagiaan yang bisa kita bawa kepada orang lain.
  • Sahabat bisa jadi tempat orang mendapatkan saran & petuah hidup.
  • Keluarga yang harmonis adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Kalau Anda belum pernah menonton film ini, saya sangat merekomendasikan film ini. Selain nilai-nilainya yang luar biasa, film ini bagus juga teknik pembuatannya. Banyak tempat indah di dunia ditampilkan dalam film ini. Film ini termasuk film serius tapi dengan bumbu komedi menjadikannya sempurna. Oh ya, Kopi Luwak dari Indonesia juga masuk dalam cerita film ini. Edward diceritakan gemar sekali minum kopi Luwak. Carter menertawainya karena katanya kopi Luwak itu adalah biji kopi yang keluar dari pantat luwak :)) . Luwak (semacam musang) memakan buahnya, sementara bijinya dikeluarkan lagi bersama dengan kotorannya. Petani kopi mengumpulkannya untuk dijadikan bubuk kopi yang katanya terenak di dunia.

Ah saya tidak pandai menuliskan review film, sebaiknya Anda tonton sendiri film ini 😀

Gambar dipinjam dari sini : http://www.facinglife.tv/episode/season_3/episode_10/originals/The%20Bucket%20List.jpg

Yang Mengesalkan Dari Indovision

Sudah lama juga saya menggunakan layanan TV berbayar dari Indovision. Saya pasang Indovision akhir Juni tahun lalu. Sejauh ini saya belum bisa bilang puas dengan siaran Indovision, masih banyak siaran TV yang jelek tampilannya. Dulu waktu instalasi, teknisi Indovision bilang kalau daerah tempat saya tinggal termasuk daerah yang penuh frekuensinya. Katanya terlalu banyak interferensi dari pemancar lain. Interferensi maksudnya gangguan sinyal karena ada pemancar sinyal yang berdekatan. Nah loh, katanya Indovision selalu bagus di segala cuaca….tapi ternyata masih kalah kalau kena interferensi sinyal.

Hampir setiap hari siaran TV lokal yang saya dapat jelek sinyalnya. Yang bagus cuma RCTI, ANTV, Trans7, dan Indosiar. MetroTV, SCTV, dkk hampir setiap hari jelek. Jeleknya seperti apa, persis seperti Anda nonton VCD rusak. Brebet brebet gambar dan suaranya. Tidak bisa lihat dan dengar apa-apa. Fashion TV juga begitu….kalau SCTV dkk jelek tampilannya, dapat dipastikan Fashion TV juga. Jadi susah kalau mau lihat lingerie show di Fashion TV kalau siaran sedang jelek ;))

Di dekat kos saya ada kantor Telkom Jakarta Barat, entah apa mungkin radio-radionya Telkom yang jadi hambatan. Beberapa hari lalu saya sempat ngobrol juga dengan rekan saya, katanya markas TNI juga punya pemancar radio yang sangat mungkin mengganggu tangkapan sinyal Indovision. Ah pantas kalau begitu, tidak jauh dari tempat saya ada markas TNI (di dekat fly over Tomang). Tapi saya perhatikan di sekitar saya banyak juga antena Indovision, artinya banyak juga pelanggan Indovision. Apakah mereka juga mengalami hal yang sama seperti saya ya. Atau karena pemasangan antena di tempat saya saja yang kurang bagus. Saya pernah dengar katanya pemasangan antena TV berbayar seperti Indovision itu tidak butuh tempat yang tinggi. Yang penting katanya sudut dan elevasinya saja harus tepat.

Agak malas saya komplain ke Indovision, malas menunggui teknisinya datang dan troubleshooting. Nah kalau sudah begini saya yang salah ya?

Jumat malam kemarin juga ada yang mengesalkan lagi. Ceritanya saya lihat ada film The Warlords di Celestial Movies, sepertinya menarik karena ada Jet Li, Andi Lau di film itu. Waktu saya pindah saluran ke Celestial Movies secara tidak sengaja, film sudah mulai sekitar setengah jam. Beberapa menit menonton saya mulai kesal karena teks sering tidak muncul. Repot kan menonton film berbahasa Mandarin tanpa teks, mengingat saya tidak ngerti bahasa Mandarin ;)) Kalau filmnya berbahasa Inggris tentu tidak akan terlalu jadi masalah kalau teks hilang. Beberapa saat teks muncul lagi, lalu hilang lagi. Saya sempat curiga apa jangan-jangan saya menekan sesuatu di remote sehingga teksnya hilang. Tapi sepertinya tidak ada pengaturan macam itu di remote-nya Indovision. Ok saya sabar saja menunggu teks. Ketika teks sudah stabil muncul terus, saya heran kenapa teksnya tidak sinkron dengan adegannya. Meskipun tidak bisa bahasa Mandarin, saya bisa menerka dan yakin 100% kalau teksnya salah. Bukan salah tapi terlambat muncul, adegannya apa tulisan di teksnya apa….lucu & mengesalkan jadinya. Saya batalkan rencana menonton The Warlord sampai selesai.

Saya sendiri tidak tahu persis siapa yang mengatur teks film pada layanan TV berbayar seperti Indovision. Entah Indovisionnya atau memang stasiun TVnya yang menyediakan. Tapi kok bisa sampai terjadi demikian? Jadi seperti nonton DVD bajakan, teksnya bisa terlambat muncul atau kadang muncul kadang tidak.

Apa Yang Salah?

Coba Anda perhatikan foto di bawah ini :

Melihat sesuatu yang ganjil? Menangkap ada yang salah?

Belum melihat ada yang salah pada foto di atas? Hmm ulangi lagi deh, lihat baik-baik 😀

Sudah dapat? Masih belum juga? Coba kunjungi optik terdekat untuk memeriksakan mata Anda :))

Foto di atas adalah foto kardus wadah speaker merek Simbadda. Ada kesalahan cetak pada kardus tempat speaker itu. Tulisan “Powdr input -ac 220V” seharusnya kan “Power input -ac 220V”. Astaga rupanya Simbadda selaku produsen kurang memperhatikan detail pada kemasan produknya. Di mata saya kok sepintas terbaca “Powder :-/

Jadi ceritanya hari Rabu kemarin salah satu rekan kantor saya akan pulang kampung ke Rumania.  Dia menitipkan sound system dan DVD player-nya pada saya. Sejak saya ambil dari apartemennya hari Rabu lalu, belum saya sentuh-sentuh lagi sampai malam ini. Malam ini saya utak-atik speaker-nya…nah saya baru sadar ternyata ada yang salah di kardus tempat speaker itu. Salah cetak, mungkin bukan salah cetak tapi salah ketik :-p

nahTadi saya ingin coba speaker Simbadda itu untuk disambungkan dengan notebook. Sekadar ingin membandingkan kualitas suaranya dengan speaker milik saya sendiri. Dilihat dari spesifikasinya, Altec Lansing saya lebih powerfull. Tapi ternyata speaker tersebut bukan speaker untuk PC. Tidak ada colokan standar untuk PC 😮 , colokan yang ada cuma yang bentuknya seperti ini :

Ah tapi terpikir oleh saya cocok juga colokan macam itu disambungkan dengan televisi di kamar. Alhasil saya sambungkan output decoder Indovision saya ke speaker ini. Lumayan “bum bum bum” suaranya untuk nonton TV ;))