Republik Mimpi Tayang Lagi

Barusan saya nyalakan televisi, cari-cari acara yang menarik. Eh ketemu Republik Mimpi. Rupanya acara Republik Mimpi yang sempat menghilang gara-gara kasus salah satu pemainnya sekarang kembali lagi. Kembalinya Republik Mimpi kali ini tidak di Metro TV lagi tapi tayang di TV One (ex- Lativi). Masih ada Butet sebagai SBY, masih ada Jarwo Kuwat, masih ada Effendi Gazali, masih ada Anya Dwinov, masih ada Olga Lydia. Nonton dulu ah, nanti saya lengkapi ceritanya.

Ternyata para artis pendukung acara Republik Mimpi di TV One ini masih sama seperti dulu. Ada Habudi, Megakarti, Gus Pur, Mr Pinky, Temon Sukoco, Iwel. Ada tambahan 2 tokoh seingat saya tadi : Harmono dan Moerdiono. Yang memerankan Moerdiono adalah artis yang dulu memerankan ahli hukum (lupa namanya) dengan ciri selalu teriak-teriak kalau bicara.

Saya cukup senang akhirnya Republik Mimpi kembali ditayangkan. Sekarang sepertinya mengusung iklan sekali. Dulu di Metro TV, didukung A Mild lalu ganti didukung LA Light. Sekarang sponsornya laptop Zyrex. Penonton (yang semuanya mahasiswa) diberi hadiah laptop…luar biasa juga nih strategi beriklan Zyrex. Lepas dari iklan, konten acara ini masih sama mengangkat masalah-masalah sosial di Indonesia dengan gaya parodi yang khas. Jangan sampai acara seperti ini nantinya malah diberangus oleh Depkominfo sendiri 🙂

Kemana Republik Mimpi?

Hari Minggu ini sampai pukul 9 malam ini, Metro TV tidak menayangkan acara Republik Mimpi (RM). Apa kah memang benar ini ada hubungannya dengan kasus yang menimpa salah satu pemain acara R, Jarwo Kwat? Katanya tokoh yang memerankan wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut terlibat kasus penipuan, membayar seseorang dengan cek kosong (kalau tidak salah nilainya sekitar 100 juta rupiah).

Minggu lalu saya masih melihat acara RM, Efendi Gazali (motornya RM) menyatakan kalau sampai benar Jarwo bersalah dalam kasus cek kosong tersebut, Republik Mimpi akan berhenti tayang. Apakah kalau sekarang RM tidak tayang, berarti kita bisa menyimpulkan bahwa Jarwo memang bersalah? Kalaupun benar Jarwo memang bersalah, saya masih salut dengan acara ini. Mengapa salut? Sudah salah ya mundur. Di Indonesia? Gak mungkin banget. Tapi kalau RM bubar karena salah satu tokohnya tersandung kasus kriminal, mengapa RM yang harus bubar? Ganti saja tokoh wapres dengan tokoh lain. Ini mungkin lebih membawa pesan bagi masyarakat, bagaimana seorang pejabat (walaupun cuma di negeri dongeng) bisa berjiwa besar, mundur demi nama baik dan kelangsungan pemerintahan yang bersih.

Ada apa sebenarnya dengan kasus ini? Kejadian ini tentu mengundang orang untuk berspekulasi bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin menjegal RM. Masuk akal memang kalau ada pihak-pihak yang ingin menjegal acara ini. Republik Mimpi dari awal penayangannya sudah “berseberangan” dengan pemerintah. Mulai dari tokoh-tokohnya yang merupakah parodi dari pada tokoh di Indonesia, sampai sindiran-sindirannya yang tajam menyinggung banyak hal di Indonesia. Saya yang jadi salah satu penonton setia acara ini tentu akan merasa kehilangan jika sampai RM tidak ditayangkan lagi.

Di tengah tayangan sinetron dan berbagai acara gak mutu di televisi kita, RM bisa menjadi pilihan tontonan yang cukup menarik untuk diikuti. Kritiknya kepada berbagai kebijakan pemerintah saya sah-sah saja kalau ditayangkan. Dengan begitu RM kan bisa jadi kontrol sosial bagi pemerintah. Masalah tersinggung atau tidak itu urusan personal. Tapi yang jelas ada beberapa hal yang sudah disampaikan RM yang merupakan suara rakyat sendiri. Saya masih ingat bagaimana mereka mengunjungi tempat pengungsian korban lumpur Lapindo. Tentu bukan porsi saya untuk menjudge bahwa RM itu benar-benar “suci” tapi setidaknya mengapa pemerintah tidak belajar dari bermacam hal (kritikan) yang sudah diangkat dan disampaikan oleh mereka?

Apa ini tandanya bangsa Indonesia (pemerintah khususnya) masih belum siap dengan kritik tajam? Tidak siap diledek dengan parodi politik macam ala Republik Mimpi? Mungkin ini adalah salah satu bentuk ad hominem menyerang pihak/orang tertentu ke hal-hal pribadi karena merasa sudah tersudutkan dalam perdebatan/argumen-argumen yang memang benar adanya. Sudah bawaan lahir manusia yang tidak pernah mau kalah, tidak pernah mau ditolak, sehingga kadang saat kita “diserang” pandangan/opininya yang muncul kita malah “menyerang” balik ke urusan pribadi – keluar dari topik utama perdebatan.

Ah semoga saja Metro TV sebagai penayang acara ini berpikir ulang dan kembali menayangkan kembali acara ini. Indonesia butuh tayangan yang mendidik, jangan sampai tayangan yang baik ini malah dihapuskan.

Pelawak Basuki Meninggal

Hari ini Indonesia kehilangan satu lagi pelawak seniornya. Basuki hari ini tutup usia begitu yang diberitakan Detikhot.com. Bintang iklan Tolak Angin ini meninggal dunia pada usia 51 tahun. Perannya yang sangat saya ingat adalah ketika dia memerankan tokoh Karyo dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, yang merupakan tayangan sinetron favorit saya. Basuki sukses besar memerankan tokoh Karyo yang lugu, dengan segala basa-basi dan adat Jawanya, meskipun kadang suka menipu dan sok tahu.

Belum jelas apa penyebab kematian Basuki. Detikhot.com pun belum memberitakan penyebab jelasnya. Hanya diberitakan Basuki meninggal di Rumah Sakit Melia Cibubur. Semoga keluarga yang ditinggalkan beroleh penghiburan dan pengharapan.

Update :
kabarnya Basuki meninggal akibat serangan jantung saat dirinya main futsal…tragis, mau sehat berolahraga malah kena serangan jantung.

Melotot & Menangis

Tadi malam saya pergi bermain biliar di Batavia Sport di jalan Panjang Green Garden. Ini memang tempat favorit kami bermain biliar. Di beberapa sudut ruang ditempatkan televisi yang ukurannya cukup besar, mungkin 20″ atau 21″. Kami sendiri malah tidak menikmati televisi tersebut, yang menikmati malah si Mbak penjaga meja. Anda bisa menebak apa yang ditonton oleh si Mbak? Tepat kalau Anda menjawab SINETRON.

Kami bermain dari sekitar pukul 7 malam sampai pukul 10. Dan sepanjang itu pula si Mbak menikmati beberapa tayangan sinetron yang ada di salah satu stasiun televisi swasta, RCTI kalau tidak salah. Karena saya datang ke situ bukan untuk nonton televisi, saya memilih untuk bermain saja memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Poin cerita saya kali ini adalah mau mengomentari tayangan sinetron yang semalaman menghiasi layar televisi di tempat biliar tadi.

Lucunya tiap kali saya melirik ke televisi (oh ya televisinya digantung di dinding, dengan posisi lebih tinggi dari kepala kami), yang saya lihat hanya 2 macam adegan : menangis & melotot. Boleh percaya boleh tidak sepanjang malam tadi (selama kami main) ada setidaknya 3 judul sinetron yang disaksikan si Mbak penjaga meja. Masuk akal juga sebab rata-rata tayangan sinetron berdurasi 1 jam, kami bermain selama lebih kurang 3 jam maka wajar ada 3 judul sinetron yang ditampilkan. Benar-benar heran saya, kok tiap kali saya melirik ke televisi yang ada adalah adegan si tokoh menangis. Adegan menangis ini cukup mendominasi diikuti dengan mata melotot yang dipertontonkan si tokoh. Entah apa isi ceritanya kok banyak menangisnya.

Kalau Anda pecinta sinetron pasti hafal dan tahu persis kalau banyak adegan menangis dan melotot di dalam sinetron. Nah bagi Anda yang belum tahu, coba saja kapan-kapan kalau Anda punya waktu luang dan tidak punya kerjaan lain yang bermanfaat :-p coba Anda duduk manis di depan televisi sekitar pukul 7 sampai 10 malam. Jangan buka Metro TV, CNN, atau Discovery Channel tapi buka dan tonton saja stasiun televisi lokal semacam SCTV, Indosiar, RCTI, atau TPI. Saya jamin dalam waktu beberapa jam Anda akan tahu dan setuju dengan pendapat saya kalau sinetron dipenuhi dengan adegan menangis dan melotot :)) .

Saya termasuk orang yang tidak suka dengan yang namanya sinetron, adegannya kok menangis dan melotot terus. Apa tidak bisa ya membuat sinetron yang agak berbobot seperti Si Doel Anak Sekolahan misalnya. Atau mungkin memang tayangan begitu yang diminati dan dinanti-nanti pecinta sinetron di Indonesia?

Oh ya mungkin ini juga bisa jadi acuan buat para ABG (ibu-ibu juga boleh) yang berminat jadi artis sinetron : latihan dulu nangis dan biasakan diri Anda melotot…dijamin gampang dapat peran di sinetron =))

Roy Suryo & Supersemar

Pagi ini saya senyum-senyum sendiri menonton berita di ANTV. Roy Suryo diberitakan tampil lagi membeberkan bukti sejarah. Dalam sebuah acara di Solo, RS mengungkapkan bahwa Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) bukan merupakan perintah pemindahahan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada LetJend Soeharto. Dalam upaya pembuktiannya RS memperdengarkan rekaman suara pidato Pres. Soekarno. Rekaman pidato tersebut berisi pernyataan tegas bahwa Supersemar adalah surat perintah untuk mengamankan negara — bukan mengambil alih kekuasaaan.

Sensasi lain dari RS? Kita tunggu saja ;))